6 Gangguan Tidur Parasomnia

1517384289898-5.jpgGangguan Tidur Parasomnia

Gangguan tidur adalah kelainan yang bisa menyebabkan masalah pada pola tidur, baik karena tidak bisa tertidur, sering terbangun pada malam hari, atau ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun.

Gangguan Tidur Parasomnia ada sekelompok gangguan tidur yang ditandai dengan gerakan atau kebiasaan yang tidak normal. Gangguan tidur (sleep disorder) yang termasuk dalam parasomnia adalah:

  1. Mimpi buruk. Ini adalah kejadian pada malam hari yang bisa menimbulkan perasaan takut, kengerian, dan kecemasan. Mimpi buruk bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya sakit, rasa cemas, efek negatif dari obat-obatan, kehilangan orang yang disayangi, dan sebagainya.
  2. Tidur berjalan. Ini adalah kondisi ketika seseorang akan berdiri dan berjalan selagi mereka tidur. Mata seseorang yang tidur berjalan biasanya akan terlihat terbuka. Jika ditanya, dia mungkin akan merespons dengan lambat atau tidak merespons sama sekali. Kondisi ini bisa disebabkan oleh jam tidur yang kacau, stres, mabuk, atau karena mengonsumsi obat-obatan penenang.
  3. Lumpuh tidur atau ketindihan. Ini adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa bergerak meskipun sudah terbangun atau sadar dari tidurnya. Lumpuh tidur biasanya muncul ketika seseorang sedang berada di antara fase terbangun dan tidur. Lumpuh umumnya berlangsung selama beberapa detik atau menit.
  4. Menggeretakkan gigi. Ini adalah kondisi ketika seseorang suka menggeretakkan gigi atau mengancingkan rahang ketika tidur. Meskipun umum terjadi, namun penyebabnya tidak diketahui. Risiko ini meningkat jika seseorang mengalami situasi yang melelahkan, menderita apnea tidur, atau kehilangan gigi. Pelindung gigi bisa digunakan untuk mencegah kondisi ini.
  5. Mengompol. Ini merupakan kondisi ketika seseorang tidak bisa menahan kencing pada malam hari. Mengompol yang terjadi pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh infeksi saluran kencing, diabetes, gangguan saraf, gangguan emosi, atau kelainan struktur tubuh.
  6. Mengigau. Kondisi ketika seseorang berbicara atau mengeluarkan suara saat sedang tidur. Mengigau, atau sleep talking (somniloquy) sangat umum terjadi, dan seringkali tidak dianggap sebagai suatu kelainan.

Tidur dan Gangguan Tidur

Tidur merupakan salah satu fungsi dari otak,dimana dengan bila fungsi ini terganggu tentunya dapat menyebabkan masalah pada diri kita. Pemahaman tentang proses tidur dan terjaga menimbulkan identifikasi dan klasifikasi terhadap berbagai macam gangguan tidur. Penilaian tahapan tidur secara klasik menggunakan teknik ini yang membagi proses dari terjaga menuju tidur, yang terdiri atas empat tahap tidur non-gerakan mata yang cepat (NREM) dan satu tahap tidur rapid eye movement (REM) .

Pada saat terjaga tonus otot cenderung tinggi, dan gerakan mata yang cepat. Sedangkan pada tahap tidur NREM 1 ditandai dengan gerakan mata bergulir serta reaktivitas terhadap rangsangan luar yang menurun, dan pemikiran dapat dilanjutkan tapi tidak lagi berorientasi realitas. Tahap 2 terdiri dari EEG dengan latar belakang tegangan rendah sampai sedang dengan disertai adanya ‘’spindle’’ tidur pada bacaan EEGnya. Tahap 3 ditunjukkan dengan adanya amplitudo tinggi (0 sampai 2 Hz) frekuensi delta yang menempati 20% sampai 50% dari latar belakang bacaan EEG. Tahap 4 mirip dengan tahap 3, kecuali tegangan tinggi gelombang delta yang membentuk minimal 50% dari hasil bacaan EEG. Tahap 3 dan 4 sering digabungkan dan disebut sebagai tidur delta/tidur gelombang lambat/ tidur nyenyak. Selama kita tertidur nyenyak, detak jantung dan tingkat pernapasan diperlambat dan dijaga agar tetap teratur. Dalam tidur NREM tonus otot cukup tinggi tetapi lebih rendah daripada saat kondisis terjaga.Pola EEG selama tidur REM terdiri dari tegangan rendah serta aktivitas otak dengan frekuensi campuran sekilas mirip dengan hasil EEG pada tidur tahap 1. Tinggi amplitudo berkisar 3 – 6-Hz dan membentuk gelombang segitiga.

Gangguan tidur merupakan masalah umum pada pasien yang berusia tua. Gangguan ini dapat menyebabkan kesusahan dan ketidaknyamanan, fungsi siang hari terganggu, dan komplikasi serius. Pada zaman Yunani kuno, Democritus percaya bahwa penyakit fisik adalah penyebab kantuk di siang hari dan gizi buruk adalah penyebab utama insomnia. Akan tetapi pada sebagian besar dari catatan sejarah masalah tidur ini masih dianggap sebagai akibat dari penyakit medis atau kejiwaan ketimbang gangguan primer. Tidur dipandang sebagai proses pasif, mirip dengan kematian, dan gagasan bahwa fisiologi tidur teratur dapat menyebabkan sindrom spesifik masih belum diketahui

wp-1518337476378..jpgwp-1518337224175..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s