Gangguan Tidur Mendengkur

Gangguan Tidur Mendengkur

Gangguan tidur adalah kelainan yang bisa menyebabkan masalah pada pola tidur, baik karena tidak bisa tertidur, sering terbangun pada malam hari, atau ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun. Mendengkur muncul ketika aliran udara melalui hidung dan mulut terganggu.

Mendengkur adalah suara yang ditimbulkan saat tidur karena adanya getaran jaringan pada saluran udara bagian atas. Mendengkur biasa terjadi pada > 3% anak-anak dan 32% dewasa. Seiring bertambahnya usia, timbulnya dengkuran saat tidur akan makin meningkat hingga hampir 50% manusia di atas 60 tahun mengalami hal tersebut. Umumnya, dengkuran lebih banyak terjadi pada saat menghirup napas (inspirasi).

Timbulnya dengkuran merupakan salah satu gejala sindrom obstruktif apnea saat tidur. Pasien yang menderita sindrom tersebut akan mendengkur dengan keras terus-menerus karena mengalami henti napas saat tidur akibat jalan napas yang tersumbat.[1] Meskipun demikian, sebagian penderita obstruktif apnea ada pula yang tidak mengalami dengkuran karena saluran udara mereka tidak beresonansi. Hal ini terutama terjadi pada pasien yang telah melakukan prosedur bedah saluran udara bagian atas untuk memperketat jaringan lunak didaerah tersebut. Selain kecurigaan adanya obstruktif apnea, orang yang mendengkur memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit pembuluh darah.

wp-1518332725927..jpg

Mendengkur bisa disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:

  • Saluran hidung yang terganggu.
  • Tonus otot yang buruk di bagian tenggorokan dan lidah.
  • Langit-langit mulut terlalu lunak.
  • Uvula yang terlalu panjang.
  • Jaringan di daerah tenggorokan terlalu tebal, misalnya karena gemuk atau karena pembesaran amandel.

Mendengkur bisa menyebabkan seseorang menjadi sering terbangun dari tidur dan kurang tidur. Jika hal ini terus terjadi, maka lambat laun bisa mengarah pada masalah kesehatan yang lebih serius, seperti gangguan pernapasan, peningkatan tekanan darah dan penambahan beban kerja jantung.

Tidur dan Gangguan Tidur

Tidur merupakan salah satu fungsi dari otak,dimana dengan bila fungsi ini terganggu tentunya dapat menyebabkan masalah pada diri kita. Pemahaman tentang proses tidur dan terjaga menimbulkan identifikasi dan klasifikasi terhadap berbagai macam gangguan tidur. Penilaian tahapan tidur secara klasik menggunakan teknik ini yang membagi proses dari terjaga menuju tidur, yang terdiri atas empat tahap tidur non-gerakan mata yang cepat (NREM) dan satu tahap tidur rapid eye movement (REM) .

Pada saat terjaga tonus otot cenderung tinggi, dan gerakan mata yang cepat. Sedangkan pada tahap tidur NREM 1 ditandai dengan gerakan mata bergulir serta reaktivitas terhadap rangsangan luar yang menurun, dan pemikiran dapat dilanjutkan tapi tidak lagi berorientasi realitas. Tahap 2 terdiri dari EEG dengan latar belakang tegangan rendah sampai sedang dengan disertai adanya ‘’spindle’’ tidur pada bacaan EEGnya. Tahap 3 ditunjukkan dengan adanya amplitudo tinggi (0 sampai 2 Hz) frekuensi delta yang menempati 20% sampai 50% dari latar belakang bacaan EEG. Tahap 4 mirip dengan tahap 3, kecuali tegangan tinggi gelombang delta yang membentuk minimal 50% dari hasil bacaan EEG. Tahap 3 dan 4 sering digabungkan dan disebut sebagai tidur delta/tidur gelombang lambat/ tidur nyenyak. Selama kita tertidur nyenyak, detak jantung dan tingkat pernapasan diperlambat dan dijaga agar tetap teratur. Dalam tidur NREM tonus otot cukup tinggi tetapi lebih rendah daripada saat kondisis terjaga.Pola EEG selama tidur REM terdiri dari tegangan rendah serta aktivitas otak dengan frekuensi campuran sekilas mirip dengan hasil EEG pada tidur tahap 1. Tinggi amplitudo berkisar 3 – 6-Hz dan membentuk gelombang segitiga.

Gangguan tidur merupakan masalah umum pada pasien yang berusia tua. Gangguan ini dapat menyebabkan kesusahan dan ketidaknyamanan, fungsi siang hari terganggu, dan komplikasi serius. Pada zaman Yunani kuno, Democritus percaya bahwa penyakit fisik adalah penyebab kantuk di siang hari dan gizi buruk adalah penyebab utama insomnia. Akan tetapi pada sebagian besar dari catatan sejarah masalah tidur ini masih dianggap sebagai akibat dari penyakit medis atau kejiwaan ketimbang gangguan primer. Tidur dipandang sebagai proses pasif, mirip dengan kematian, dan gagasan bahwa fisiologi tidur teratur dapat menyebabkan sindrom spesifik masih belum diketahui

wp-1518337224175..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s