Gangguan Tidur Narkolepsi

wp-1520641896290..jpgGangguan Tidur Narkolepsi

Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur, di mana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk biasanya hilang setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat tidur.

Perkiraan prevalensi/angka kejadian berkisar antara 2 dan 10 per 10.000 orang di Amerika Utara dan Eropa. Sedangkan di Jepang angka kejadian sekitar lima kali lebih tingggi. Gejala-gejala dari narkolepsi biasanya timbul antara usia 12 dan 30 tahun, meskipun ada pula kasus yang dilaporkan dengan onset sejak usia 2 tahun dan hingga akhir 76 tahun. Perbedaan gender tidak terlalu berpengaruh terhadap prevalensi kejadian.

1511694234378_crop_610x77-4.jpg
Penyebab

  • Gangguan terjadi pada mekanisme pengaturan tidur. Tidur, berdasarkan gelombang otak, terbagi dalam tahapan-tahapan mulai dari tahap 1, 2, 3, 4 dan Rapid Eye Movement (REM.) Tidur REM adalah tahapan di mana kita bermimpi. Pada penderita narkolepsi gelombang REM seolah menyusup ke gelombang sadar. Akibatnya kantuk terus menyerang, dan otak seolah bermimpi dalam keadaan sadar.

Gejala
Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):

  • Rasa kantuk berlebihan (EDS)
  • Katapleksi (cataplexy)
  • Katapleksi merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara mendadak. Otot yang melemas bisa beberapa otot saja sehingga kepala terjatuh, mulut membuka, menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang menyangga tubuhnya.

Paralisis/Kelumpuhan saat tidur
Kelumpuhan Tidur adalah kelumpuhan otot volunter secara umum yang terjadi pada waktu awal tidur. Peristiwa ini mungkin disertai rasa dikejar-kejar atau perasaan akan adanya bahaya yang akan datang. Teror yang timbul dalam peristiwa tersebut baru dapat diceritakan oleh pasien beberapa tahun kemudian. Peristiwa ini juga dibatalkan dengan sentuhan sederhana. Kelumpuhan yang timbul pada pasien narkolepsi tersebut diperkirakan sebagai akibat dari inhibisi motor yang sama seperti yang terjadi pada tidur REM.Kelumpuhan saat tidur tanpa disertai narkolepsi dapat terjadi pada orang sehat yang kurang tidurtetapi, juga sering kali terlihat pada pasien dengan depresi. [1]

Halusinasi Hypnagogic/hypnopompic
Kondisi mimpi yang menyusup ke alam sadar bermanifestasi sebagai halusinasi. Penderita narkolepsi biasanya berhalusinasi seolah melihat orang lain di dalam ruangan. Orang lain tersebut bisa orang yang dikenal, teman, keluarga, sekadar bayangan, hantu atau bahkan makhluk asing, tergantung pada latar belakang budaya penderita.

Kondisi ini melibatkan kelainan pada saraf yang mempengaruhi kendali seseorang atas waktu tidur dan bangun. Orang yang mengalami narkolepsi akan mengalami gejala-gejala seperti:

  • Merasa mengantuk pada siang hari.
  • Berhalusinasi (kondisi ketika seseorang mengalami khayalan yang terasa jelas dan bisa menakutkan).
  • Kelumpuhan tidur (kondisi ketika terjadi ketidakmampuan untuk bergerak atau bicara saat hampir tertidur atau ketika akan bangun dari tidur). Kelumpuhan ini berlangsung selama beberapa menit.
  • Kelemahan otot secara tiba-tiba dan ketidakmampuan untuk mengendalikannya.

Tidak ada metode yang dapat menyembuhkan narkolepsi. Namun obat-obatan bisa diberikan untuk meredakan gejala yang muncul. Perubahan gaya hidup, seperti menghindari minuman keras, nikotin, kafein, dan makanan berat, pengaturan jadwal tidur dan makan, serta melakukan olahraga, juga bisa membantu memperbaiki kondisi ini.

Dengan gejala-gejala yang tidak biasa ini, tidak jarang keluarga menganggap penderita narkolepsi mengidap gangguan jiwa.

Referensi

  • Rowland, Lewis P. (2005). Merritt’s Neurology, 11th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.

1517384393166-5.jpgwp-1518337224175..jpgwp-1518337476378..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s